Perhatikan Ventilasi Ruangan Ketika Ingin Masuk Kerja Untuk Cegah Penularan Corona

Kasus infeksi virus corona di Indonesia masih terjadi dan grafiknya masih cukup tinggi. Meskipun demikian, sejumlah perusahaan dan perkantoran sudah mulai ancang-ancang kembali beroperasi.

Terkait kondisi tersebut, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan untuk mengindari penyebaran virus corona di kantor. Terutama perkantoran yang berada di ruangan maupun gedung bertingkat.

 

Ventilasi, posisi, dan durasi

Berkumpul di dalam ruangan dengan kumpulan orang dalam jumlah banyak dan durasi cukup lama berpotensi tinggi terjadi penularan virus corona dengan itu perlu menggunkan hepa filter dengan ukuran hepa filter yang sesuai. Satu saja karyawan yang terinfeksi maka mudah menyebarkan kepada yang lain.

Pada bulan Maret, ada 97 dari 811 karyawan di call center Seoul, Korea Selatan dinyatakan positif terkena virus corona.

Menurut penelitian dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC), dari jumlah tersebut, 94 duduk di lantai yang sama dengan 79 pekerja di bagian yang sama.Sementara itu sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases menggambarkan tingkat infeksi corona di gedung bertingkat dengan sirkulasi udara tertutup mencapai 43,5 persen.

Sementara itu sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases menggambarkan tingkat infeksi corona di gedung bertingkat dengan sirkulasi udara tertutup mencapai 43,5 persen.

Wabah ini dapat sangat menular di lingkungan kantor yang padat seperti call center,” tulis studi KCDC. “Besarnya wabah menggambarkan bagaimana lingkungan kerja kepadatan tinggi dapat menjadi situs berisiko tinggi untuk penyebaran Covid-19 dan berpotensi menjadi sumber transmisi lebih lanjut,” lanjut penelitian itu.

Ventilasi juga memainkan peran penting dalam seberapa mudah virus dapat ditularkan melalui udara. “Berada di dalam ruangan sangat mungkin menimbulkan risiko lebih tinggi daripada yang di luar ruangan, terutama jika berventilasi buruk,” kata Benjamin Cowling, epidemiolog Universitas Hong Kong dikutip dari scientificamerican.