Kasus Kalideres: Ibu Tewas Sejak Mei Tapi Dianggap Tidur, Saksi Teriak Allahu Akbar

Polisi Berhasil Mengungkap Kasus Kematian Kalideres

Tabir kematian sebuah keluarga di sebuah rumah di Kalideres mulai terkuak. Polisi berhasil mengungkap kronologi kematian empat korban yang tinggal satu atap. Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Hengky Haryadi mengatakan, pihaknya melibatkan banyak pihak dalam perkembangan kasus ini. Meski dia menegaskan kasus ini masih dalam tahap penyidikan, namun belum sampai pada tahap kesimpulan.

“Di mana dari proses forensik digital kami menemukan fakta bahwa penghuni rumah keluarga ini jarang berkomunikasi dengan pihak luar, sangat jarang,” kata Hengky di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (21/11).

Hengky mengatakan, dari hasil penyelidikan diketahui ada beberapa pihak yang dihubungi korban sebelum meninggal dunia. Kemudian ditindaklanjuti dengan penyidikan konvensional, penyidikan deduktif, keterangan saksi.

“Kami menemukan beberapa petunjuk penting terkait proses ini,” kata Hengky.

Pertama, dari salah satu penghuni lokasi, ternyata korban sempat menghubungi sebuah nomor. Ini terkait dengan penjualan barang di rumah. Misalnya mobil, sepeda motor. Kemudian penjualan AC, kulkas, blender, TV.

“Dan kita sudah tahu siapa yang membelinya, berapa yang terjual, dan sebagainya,” katanya.

Jadi, anggapan awal ada pencurian mobil, dan barang-barang yang ada di dalam rumah, untuk sementara bisa dibatalkan. Namun, lanjut Hengky, ada satu pihak yang bisa mengungkap lebih spesifik terkait kasus ini. Di mana salah satu nomor telepon ini dilacak.

Mengambil 3 Taksis Dalam Proses Penyelidikan

“Kami mengambil keterangan saksi, dan akhirnya kami mendapatkan 3 saksi penting dalam proses penyelidikan kami,” tegasnya.

Ternyata, salah satu saksi merupakan mediator jual beli rumah. Kemudian dia mengundang rekannya, sama dengan mediator penjualan rumah. Saat itu, salah satu pemilik atau yang meninggal dunia di rumah tersebut atas nama almarhum Budiyanto menghubungi saksi tersebut untuk menjual rumah tersebut.

“Ada yang sangat tidak biasa di sini, ketika bertemu mediator, dia langsung menyerahkan sertifikat asli. Lalu karena putus asa, dia tidak menemukan pembeli yang mau seharga Rp 1,2 miliar. Akhirnya sertifikat dikembalikan. ke almarhum Budiyanto masih ditolak, tahan lagi,” kata Hengky.

Pada 13 Mei, ternyata mediator ini berteman dengan seorang pegawai koperasi simpan pinjam. Oleh karena itu, dimaksudkan untuk menggadaikan sertifikat rumah ini. Oleh karena itu, para pegawai koperasi simpan pinjam ini tertarik, mengingat lokasi perumahan ini memiliki NJOP yang tinggi.

“Pembayaran simpan pinjam membutuhkan 50 persen dari NJOP, baik untuk rumah maupun tanah. Ketika 5 orang datang ke sekitar rumah kedua mediator, salah satu petugas atau karyawan dari koperasi simpan pinjam datang ke depan rumah bareng mereka masuk ke rumah yang jadi TKP,” kata Henry.

Referensi : https://www.merdeka.com/jakarta/kasus-kalideres-ibu-tewas-sejak-mei-tapi-dianggap-tidur-saksi-teriak-allahu-akbar.html