Bagaimana Meningkatkan Kualitas Bahasa Arab Melalui Arabic Week

Bahasa Arab mempunyai kegunaan yang sangat besar di dalam kehidupan muslim di beraneka belahan dunia. Bahasa ini terhitung merupakan bhs hukum Islam yang mendominasi kehidupan seluruh muslim dan digunakan sebagai bhs kebudayaan Islam yang dipakai sebagai bhs pengajaran, kesusastraan, anggapan dibidang sejarah, etika hukum, fiqih dan kajian kitab dan juga diajarkan di ribuan sekolah di luar dunia Arab.

Jika telah hilang Bahasa Arab dari kehidupan manusia, maka hilanglah kehidupan bersama dengan pedoman yang sesungguhnya, sehubungan bersama dengan pertumbuhan anggapan ini, Dewan Mahasiswa menjadi bagian yang tak terpisahkan bersama dengan dinamika pendidikan yang tersedia selagi ini. Dengan demikianlah kontribusi mahasiswa tentulah menjadi nilai tersendiri pada output Universitas Ibnu Khaldun sebagai Perguruan Tinggi Islam, maka darinya diharapkan bisa menjadi layanan pertumbuhan keilmuan terlebih di dalam keilmuan Islam yang berbasis bhs Arab.

Sejalan bersama dengan peningkatan kreatifitas kegiatan mahasiswa Universitas Ibnu Khaldun, “Arabic Week” bisa diadakan sebagai program peningkatan kecintaan berbahasa Arab dan juga menambah kretifitas mahasiswa di dalam kegiatan kemahasiswaan, program ini bertujuan kepada mahasiswa dan juga mahasiswi sebagai kader penduduk untuk mendalami bhs Arab di dalam obrolan sampai ranah tekstual dan diharapkan bisa membentuk lingkungan belajar manfaatkan bhs Arab aktif dengan kursus arab pare.

Ide pokok kegiatan “Arabic Week” seutuhnya merupakan hasil dari gagasan mahasiswa/i Universitas Ibnu Khaldun yang prihatin akan kemampuan bhs Arab para mahasiswa/i yang kurang lancar, bersama dengan misi menambah mutu Bahasa Arab mahasiswa/i sebagai tidak benar satu Universitas Islam yang unggul. Adapun nantinya sasaran utama peserta “Arabic Week” adalah mahasiswa/i UIKA sendiri melalui pemilihan berdasarkan keperluan mahasiswa/i di dalam menambah intelegensi terlebih pada mata kuliah Bahasa Arab.

Dalam pelaksanannya, terdapat beraneka kegiatan-kegiatan kebahasaan layaknya pembelajaran kosa kata, kelas formal, hafalan kosa kata, language skill, perlombaan antar peserta, dan lain-lain yang dikemas secara proposional, profesional, edukatif dan rekreatif. Melalui beraneka kegiatan ini, peserta dituntut untuk bisa menghayati jiwa kemahasiswaan dan belajar manfaatkan Bahasa Arab secara praktis dan juga terarah.

Bahasa Arab Merupakan satu disiplin ilmu yang terdiri dari beraneka segi utama di dalamnya. Aspek keterampilan utama berikut meliputi keterampilan mendengar (maharah Al-Istima’), keterampilan berbicara (Maharah Al-Kalam), keterampilan menulis (Maharah Al-Kitabah), keterapilan membaca (Maharah Al-qira’ah). Keempat keterampilan berikut merupakan keterampilan bhs yang saling berkait dan berurutan. Orang yang belajar bhs Arab akan enteng menguasai bhs Arab seandainya ia memulainya bersama dengan melatih keterampilan-keterampilan berikut secara berurutan yang di awali dari keteramilan mendengar, berbicara dan seterusnya.

Untuk membantu mahasiswa/i agar bisa bersama dengan enteng menguasai tiap-tiap keterampilan berikut cocok tingkatannya, pemilihan materi atau topik pelajaran pada kegiatan ini mesti cocok bersama dengan kesenangan dan pengalaman mahasiswa/i. Di sisi lain, pilihan metode dan kiat pembelajaran yang sesuai bersama dengan keadaan mahasiswa/i terhitung pilih keberhasilan peserta di dalam menguasai bhs Arab.

Yang pertama yaitu Mahârah al-Istima’ (keterampilan mendengar), keterampilan mendengar merupakan keterampilan awal di dalam pembelajaran bahasa, baik bhs ibu maupun bhs asing terhitung di dalamnya adalah bhs Arab. Dengan demikianlah kegagalan di dalam pembelajaran keterampilan ini bisa sebabkan kegagalan pada pembelajaran keterampilan-keterampilan bhs berikutnya.

Untuk mengajar Mahârah al-Istima’ tersedia beberapa langkah yang bisa disita tidak benar satunya yaitu bersama dengan mendatangkan al-Nâthiq al-Ashli atau Native S peaker (pembicara asli) berbahasa Arab sebagai pengajar utama. Langkah ini mempunyai berlebihan di dalam memberikan langkah pengucapan bhs asing secara benar dan juga bisa tahu beraneka dialek bhs tersebut.

Akan tetapi, kelemahan utama di dalam langkah ini adalah kesusahan beberapa lembaga pendidikan untuk mendatangkan pembicara asli berikut terkait bersama dengan sulitnya menemukan mereka disekitar lembaga pendidikan kita, dan mahalnya biaya yang mesti dikeluarkan untuk itu.

Yang ke-2 yaitu Mahârah al-Kalâm (keterampilan berbicara), keterampilan berbicara adalah lanjutan dari keterampilan mendengar. Kedua keterampilan ini saling terkait. Orang yang pendengarannya baik dimungkinkan untuk bisa berbicara bersama dengan baik pula, sebaliknya orang yang tidak bisa mendengar bersama dengan baik tidak akan bisa berbicara bersama dengan baik.

Oleh sebab hubungannya yang sangat dekat bersama dengan pembelajaran keterampilan mendengar, maka di dalam lakukan pembelajaran Mahârah al-Kalâm seorang pengajar bhs Arab bisa pilih topik-topik yang sederhana dan dekat bersama dengan dunia mahasiswa sebelum topic berikut meningkat cocok bersama dengan tingkat kesulitannya.

Yang ketiga yaitu Mahârah al-Qirâah (keterampilan membaca), agar mempunyai keterampilan membaca yang baik diperlukan kecermatan tersendiri. Hal ini sebab membaca merupakan kegiatan tahu isi anggapan penulis yang tentu saja tidak sedang berada dihadapan pembaca. Kegiatan menarik pemahaman berikut lebih susah dibandingkan bersama dengan pengambilan pemahaman melalui proses obrolan atau dialog yang melibatkan langsung pada mutakallim (pembicara) dan sâmi’ (pendengar), di mana proses dialog berikut bisa melibatkan bhs tubuh yang bisa membantu terjadinya kesepemahaman yang baik pada ke-2 belah pihak.

Yang keempat yaitu Mahârah al-Kitâbah (keterampilan menulis), keterampilan menulis merupakan keterampilan terakhir di dalam beberapa keterampilan bahasa. Untuk menguasai keterampilan ini secara baik diperlukan penguasaan keterampilan bhs di awalnya bersama dengan baik pula.

Hal ini sebab menulis merupakan kegiatan menuangkan isi pikiran di dalam bentuk postingan yang tujuannya untuk bisa dipahami oleh pembaca yang tentu saja tidak sedang berhadapan atau lebih-lebih tidak satu era bersama dengan penulis. Seluruh segi bhs yang meliputi qawâ’id (penguasaan struktur), mufradât (kosa kata), adab (sastra), dan ikhtiyâr al-kalimah (pilihan diksi yang baik) sangat diperlukan di dalam kegiatan menulis.

Dalam segala unsur dari kegiatan “Arabic Week” di atas bisa diperkirakan bahwa mahasiswa/i bisa mendalami sampai mempraktikan bhs Arab yang cocok bersama dengan manfaat pemanfaatan bhs itu sendiri. Semoga bersama dengan kegiatan ini nantinya bisa menjadi acuan peningkatan bhs asing bagi mahasiswa/i terlebih di dalam berbahasa Arab.